cursor ali 2

Senin, 26 Maret 2012

Hama dan Penyakit Jagung




HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN JAGUNG (Zea mays L.)

          A.    Hama-Hama Tanaman Jagung (Zea mays L.)
      1.      Penggerek Batang (Ostrinia furnacalis)
Penggerek batang, Ostrinia furnacalis Guenee, merupakan salah satu hama utama pada tanaman jagung sehingga keberadaannya perlu diwaspadai. Kehilangan hasil akibat hama tersebut mencapai 20−80%. Besarnya kehilangan hasil dipengaruhi oleh padat populasi larva O. furnacalis serta umur tanaman saat terserang. Telur O. Furnacalis diletakkan secara berkelompok pada bagian bawah daun, bentuknya menyerupai sisik ikan dengan ukuran yang berbeda-beda. Periode telur berlangsung 3−4 hari. Larva terdiri atas lima instar, setiap instar lamanya 3−7 hari. Stadium pupa berlangsung 7−9 hari. Lama hidup ngengat adalah 2−7 hari sehingga siklus hidup dari telur hingga ngengat adalah 27−46 hari dengan rata-rata 37,50 hari.
Penggerek batang (Ostrinia furnacalis) menyerang bagian batang, daun, dan tongkol. Larva penggerek batang dapat merusak daun, batang, serta bunga jantan dan betina atau tongkol muda. Larva instar I-III merusak daun dan bunga jantan, sedangkan larva instar IV-V merusak batang dan tongkol. Namun dalam pengamatan di lapang hama ini hanya menyerang pangkal batang saja.
Gejala yang ditunjukkan berupa gerekan di bagian dalam batang. Larva O. furnacalis menyerang semua bagian tanaman jagung. Serangga ini mempunyai ciri khas serangan pada setiap bagian tanaman jagung, yaitu berupa lubang kecil pada daun, lubang gorokan pada batang, bunga jantan, atau pangkal tongkol, batang dan tassel yang mudah patah, tumpukan tassel yang rusak, dan rusaknya tongkol jagung.


  1. Penggerek Batang Merah Jambu (Sesamia inferens Walker. Noctuidae: Lepidotera)

Hama ini memiliki tiga generasi per tahun jika berada pada daerah subtropis, sedangkan pada daerah tropis mempunyai enam generasi. Telur diletakkan secara berkelompok dalam barisan di pelapah daun. biasanya 3-8 baris. Telur generasi pertama terdiri atas 75-100 butir. Rata-rata fekunditi betina adalah 250 telur. Seekor imago betina mampu meletakkan telur 300-400 butir. Imago betina meletakkan beberapa generasi telur dalam beberapa minggu. Untuk generasi kedua, serangga betina akan meletakkan telur lebih banyak. Betina berkopulasi hanya sekali dengan masa inkubasi 6-10 hari atau rata-rata 7-8 hari pada daerah tropis.

Larva terdiri atas enam atau tujuh instar dan adakalanya delapan instar dengan stadium larva berkisar antara 28-56 hari atau rata-rata lima minggu di daerah tropik. Instar I adalah instar dengan masa perkembangan yang lama, yaitu delapan hari dan instar II-V rata-rata 3-5 hari setiap instarnya, sementara instar VI tujuh hari, dan instar VII rata-rata 13 hari Larva berwarna merah jambu.

Masa prapupa sekitar lima jam dan stadia pupa 8-11 hari. Proses keluarnya imago dari pupa berlangsung selama 25 menit. Sayap akan tetap melipat selama 10 menit dan kemudian membuka secara sempurna. Imago akan terbang secara sempurna empat hari setelah keluar dari pupa. Jarak terbang yang bisa ditempuh oleh seekor betina dan jantan masing-masing lebih dari 32 dan 50 km. Proses kawin dan meletakkan telur dapat terjadi 24 jam setelah keluar dari pupa.

Gejala serangan mirip dengan gejala serangan penggerek batang O. furnacalis, terutama saat menyerang batang. Larva akan melubangi batang dan menggoroknya ke bagian atas sehingga batang mudah patah.
    

  1. Penggerek Tongkol Jagung (Helicoverpa armigera Hbn. Noctuidae: Lepidotera)


Imago betina H. armigera meletakkan telur pada pucuk tanaman dan apabila tongkol sudah mulai keluar maka telur diletakkan pada rambut jagung. Imago betina mampu bertelur rata-rata 730 butir dengan masa oviposisi 10- 23 hari. Periode perkembangan larva sangat bergantung pada suhu dan kualitas makanannya. Khususnya pada jagung, masa perkembangan larva pada suhu 24-27,2OC adalah 12,8-21,3 hari. Larva serangga ini bersifat kanibalisme sehingga merupakan salah satu faktor yang menekan perkembangan populasinya.

Spesies ini mengalami masa prapupa selama 1-4 hari. Selama periode ini, larva menjadi pendek dan lebih seragam warnanya dan kemudian berganti kulit menjadi pupa. Masa prapupa dan pupa biasanya terjadi dalam tanah dan kedalamannya bergantung pada kekerasan tanah. Pada umumnya pupa terbentuk pada kedalaman 2,5-17,5 cm. Serangga ini kadang-kadang berpupa pada permukaan tumpukan limbah tanaman atau pada kotorannya yang terdapat pada tanaman.

Gejala serangan, Imago betina akan meletakkan telur pada silk jagung dan sesaat setelah menetas larva akan menginvasi masuk ke dalam tongkol dan akan memakan biji yang sedang mengalami perkembangan. Infestasi serangga ini akan menurunkan kualitas dan kuantitas tongkol jagung.










  1. Ulat Grayak (Spodoptera litura, Mythimna sp. Noctuidae: Lepidotera)

Spodoptera litura meletakkan telur secara berkelompok di permukaan daun dan ditutupi oleh bulu-bulu yang berwarna coklat muda dan setiap kelompok telur terdiri atas 50-400 butir. Larva terdiri atas enam instar dan instar terakhir mempunyai bobot mencapai 800 mg dan menghabiskan 80% dari total konsumsi makanannya Larva bersembunyi dalam tanah pada siang hari dan baru aktif pada malam hari, kecuali S. exempta yang juga aktif pada siang hari. Spesies ini adalah serangga polipagous. Tanaman inangnya selain jagung adalah tomat, kapas, tembakau, padi, kakao, jeruk, ubi jalar, kacang tanah, jarak, kedelai, kentang, kubis, dan bunga matahari.

Mythimna sp. merupakan hama polipagous dan menyerang banyak tanaman, antara lain jagung, padi, sorgum, dan kacang-kacangan. Ada beberapa spesies dari genus ini yang dapat merusak tanaman jagung antara lain M. separata dan M. loreyi.

Serangga meletakkan telur secara berkelompok pada daun dan ditutupi dengan bulu-bulu yang berwarna coklat. Seekor M. separata betina mampu meletakkan telur 500-900 butir. Masa inkubasi telur berkisar antara 2-13 hari, bergantung suhu, tetapi normalnya 3-4 hari pada suhu 25OC. Telur yang baru diletakkan berwarna hijau keputih-putihan, kemudian berubah menjadi kuning dan berwarna hitam sebelum menetas.

Larva instar I memakan cangkang telur. Stadia larva terdiri atas enam instar dengan stadium 13-18 hari. Pada siang hari larva bersembunyi dalam tanah dan aktif menyerang pada malam hari. Pola warna larva berbeda, bergantung pada perilakunya.
Pada kondisi gregarious larva berwarna gelap dan aktif, sementara pada kondisi solitary berwarna lebih terang dan pasif. Pupa terbentuk dalam tanah dengan lama pupasi sekitar sembilan hari. Serangga dewasa dapat kawin beberapa kali dan meletakkan telur selama 2-6 hari. Perkembangan dari telur sampai dewasa berkisar 30-39 hari.

Gejala serangan, Larva serangga ini memakan daun dengan bentuk yang tidak beraturan. Dalam kondisi yang sangat lapar, larva memakan daun hingga menyisakan tulang daun.




  1. Lalat Bibit (Atherigona sp., Ordo: Diptera)

Atherigona sp. biasanya meletakkan telur pada pagi hari atau malam hari. Telur-telur tersebut diletakkan secara tunggal di bawah daun, axil daun, atau batang dekat permukaan tanah. Telur menetas pada malam hari minimal 33 jam atau maksimal empat hari setelah telur diletakkan. Telur spesies ini berwarna putih dengan panjang 1,25 mm dan lebar 0,35 mm dan warnanya berubah menjadi gelap sebelum menetas.

Larva terdiri atas tiga instar dengan stadia larva 6-18 hari (Gambar 11a). Larva spesies ini terdiri atas 12 ruas (satu ruas kepala, tiga ruas thorax, dan delapan ruas abdomen). Panjang larva mencapai 9 mm, berwarna putih krem pada awalnya dan selanjutnya menjadi kuning hingga kuning gelap.

Pupa terdapat pada pangkal batang dekat atau di bawah permukaan tanah. Imago keluar dari pupa setelah 5-12 hari pada pagi atau sore hari. Puparium berwarna coklat kemerahan sampai coklat dengan panjang 4,1 mm. Segmentasi tidak dapat dibedakan.

Imago akan terbang satu jam setelah keluar dari pupa. Kopulasi tidak terjadi pada beberapa hari setelah muncul dari pupa. Serangga dewasa sangat aktif terbang dan sangat tertarik pada kecambah atau tanaman yang baru tumbuh. Imago berukuran kecil dengan panjang 2,5-4,5 mm, caput agak lebar dengan antena panjang, thorax berambut, abdomen berwarna kuning dengan spot hitam pada bagian dorsal. Imago betina mulai meletakkan telur 3-5 hari setelah kawin dengan jumlah telur 7-22 butir atau bahkan dapat mencapai 70 butir. Imago betina meletakkan telur selama 3-7 hari.

Lama hidup serangga dewasa bervariasi antara 5-23 hari, masa hidup betina dua kali lebih lama daripada jantan. Siklus hidup telur hingga menjadi dewasa adalah 21-28 hari.

Gejala serangan, Larva yang baru menetas melubangi batang, kemudian membuat terowongan hingga ke dasar batang sehingga tanaman menjadi kuning dan akhirnya mati. Jika tanaman mengalami recovery, maka pertumbuhannya akan kerdil.


6.      Kutu Daun (Rhopalisiphum maidis)
Kutu Daun ini menginfeksi semua bagian tanaman, akan tetapi infeksi terbanyak terjadi pada daun. Kutu ini selain merusak daun tanaman inangnya juga membawa sebagai vector dari berbagai macam virus penyakit. Populasi kutu ini dapat mengalami perkembangan yang pesat.
Perkembangbiakan kutu daun secara parthenogenesis memungkinkan spesies kutu daun ini untuk melestarikan jenisnya tanpa harus melakukan perkawinan. Daur hidup kutu ini dimulai dari telur, kemudian nympha, dan kutu dewasa. Pada fase nympha, kutu ini mengalami 4 tahapan. Tahapan pertama nympha akan tampak berwarna hijau cerah dan sudah terdapat antena. Tahap nympha kedua tampak berwarna hijau pale dan sudah tampak kepala, abdomen, mata berwarna merah, dan antenna yang terlihat lebih gelap dari pada warna tubuh. Pada tahap ketiga, antena akan terbagi menjadi 2 segmen, warna tubuh masih hijau pale dengan sedikit lebih gelap pada sisi lateral tubuhnya, kaki tampak lebih gelap daripada warna tubuh. Kutu dewasa ada beberapa yang memiliki sayap (alate) dan yang tidak memiliki saya (apterous). Sayap pada kutu ini memiliki panjang antara 0,04 to 0,088 inchi. Tubuh kutu dewasa berwarna kuning kehijauan sampai berwarna hijau gelap.
Kutu daun (Rhopalosiphum maidis) menyerang pertanaman jagung terutama pada bagian pucuk daun yang masih muda. Hama ini menyerang mulai dari awal pertanaman. Hama ini ditemukan sangat banyak di pertanaman. Gejela kerusakan yang disebabkan oleh hama ini adalah nekrotik, daun mengkriting dan warna daun berubah.

  1. Belalang Kembara (Locusta migratoria)

Seekor betina mampu menghasilkan telur sekitar 270 butir. Telur berwarna keputih-putihan dan berbentuk buah pisang, tersusun rapi sekitar 10 cm di bawah permukaan tanah. telur akan menetas setelah 17 hari, bergantung temperatur. Nimfa mengalami lima kali ganti kulit (lima instar). Instar I berwarna hitam. Instar II berwarna kuning keputih-putihan. Instar III pada bagian lateral dan venteral berwarna kuning dengan dorsal hitam, disertai bakal sayap kecil mengarah ke bawah, Instar IV pada bagian lateral dan venteral berwarna jingga dengan dorsal hitam dan bakal sayap mengarah ke atas. Instar V berwarna jingga kemerah-merahan dengan dorsal hitam dan bakal sayap memanjang sampai dengan ruas abdomen ke empat dan pangkalnya berwarna jingga. Stadiaum nimfa berlangsung selama 38 hari.


Imago betina yang berwarna coklat kekuningan siap meletakkan telur setelah 5-20 hari, tergantung temperatur. Seekor betina mampu menghasilkan 6-7 kantong telur dalam tanah dengan jumlah telur 40 butir per kantong. Imago betina hanya membutuhkan satu kali kawin untuk meletakkan telur-telurnya dalam kantong-kantong tersebut. Imago jantan yang berwarna kuning mengkilap berkembang lebih cepat dibandingkan dengan betina. Lama hidup dewasa adalah 11 hari.

Tanaman yang paling disukai belalang kembara adalah kelompok Graminae yaitu padi, jagung, sorgum, tebu, alang-alang, gelagah, dan berbagai jenis rumput. Selain itu, belalang juga menyukai daun kelapa, bambu, kacang tanah, petsai, sawi, dan kubis daun. Tanaman yang tidak disukai antara lain adalah kacang hijau, kedelai, kacang panjang, ubi kayu, tomat, ubi jalar, dan kapas.

Gejala serangan belalang tidak spesifik, bergantung pada tipe tanaman yang diserang dan tingkat populasi. Daun biasanya bagian pertama yang diserang. Hampir keseluruhan daun habis termasuk tulang daun, jika serangannya parah. Spesies ini dapat pula memakan batang dan tongkol jagung jika populasinya sangat tinggi dengan sumber makanan terbatas.

8.      Hama Putih Palsu (Cnaphalocrosis medinalis)
Hama putih palsu jarang menjadi hama utama padi. Serangannya menjadi berarti bila kerusakan pada daun pada fase anakan maksimum dan fase pematangan mencapai > 50%. Tanda-tanda serangan berupa kerusakan akibat serangan larva hama putih palsu terlihat dengan adanya warna putih pada daun di pertanaman. Larva makan jaringan hijau daun dari dalam lipatan daun meninggalkan permukaan bawah daun yang berwarna putih. Siklus hidup hama ini berkisar 30-60 hari. Tanda pertama adanya infestasi hama putih palsu adalah kehadiran ngengat berwarna kuning coklat yang memiliki tiga buah pita hitam dengan garis lengkap atau terputus pada bagian sayap depan. Pada saat beristirahat, ngengat berbentuk segi tiga.
B.     Penyakit-Penyakit Tanaman Jagung (Zea mays L.)
  1. Penyakit Bulai
Penyebab
Penyakit bulai pada jagung dapat disebabkan oleh 10 spesies dari tiga generasi yaitu: Peronosclerospora maydis (Java downy mildew); P. philippinensis (Philippine downy mildew); P. sorghi (Sorghum downy mildew); P. sacchari (Sugarcane downy mildew); P. spontanea (Spontanea downy mildew); P. miscanthi (Miscanthi downy mildew); P. heteropogoni (Rajasthan downy mildew); Sclerophthora macrospora (Crazy top); S. rayssiae var. zeae (Brown stripe); Sclerospora graminicola (Graminicola downy mildew)

Siklus Hidup
Jamur dapat bertahan hidup sebagai miselium dalam biji, namun tidak begitu penting sebagai sumber inokulum. Infeksi dari konidia yang tumbuh di permukaan daun akan masuk jaringan tanaman melalui stomata tanaman muda dan lesio lokal berkembang ke titik tumbuh yang menyebabkan infeksi sistemik. Konidiofor (Gambar 1b) dan konidia terbentuk keluar dari stomata daun pada malam hari yang lembab. Apabila bijinya yang terinfeksi, maka daun kotiledon selalu terinfeksi, tetapi jika inokulum berasal dari spora, daun kotiledon tetap sehat.

Tanaman Inang
Beberapa jenis serealia yang dilaporkan sebagai inang lain dari pathogen penyebab bulai jagung adalah Avena sativa, Digitaria spp., Euchlaena spp., Heteropogon contartus, Panicum spp., Setaria spp., Saccharum spp., Sorghum spp., Pennisetum spp., dan Zea mays.

Gejala
Gejala daun yang terinfeksi berwarna khlorotik, biasanya memanjang sejajar tulang daun, dengan batas yang jelas, dan bagian daun yang masih sehat berwarna hijau normal. Warna putih seperti tepung pada permukaan bawah maupun atas bagian daun yang berwarna khlorotik, tampak dengan jelas pada pagi hari. Daun yang khlorotik sistemik menjadi sempit dan kaku. Tanaman menjadi terhambat pertumbuhannya dan pembentukan tongkol terganggu sampai tidak bertongkol sama sekali. Tanaman yang terinfeksi sistemik sejak muda di bawah umur 1 bulan biasanya mati. Gejala lainnya adalah terbentuk anakan yang berlebihan dan daun-daun menggulung dan terpuntir, bunga jantan berubah menjadi massa daun yang berlebihan dan daun sobek-sobek.



  1. Penyakit Bercak Daun

Penyebab
Penyebab penyakit bercak daun pada tanaman jagung adalah Bipolaris maydis (Nisik) Shoemaker, yang sinonim dengan Drechslera maydis (Nisik) Subran dan Jani. Stadia sempurnanya adalah Cochliobolus heterostrophus Drecks.

Siklus Hidup
Dalam kondisi tidak ada tanaman jagung di areal pertanaman, miselium dan spora jamur Bipolaris dapat bertahan hidup pada sisa tanaman dan biji terinfeksi. Konidia diterbangkan oleh angin atau terbawa percikan air untuk sampai ke tanaman baru. Siklus hidup lengkapnya mencapai 60-72 jam.

Epidemiologi/Inang
Jamur Bipolaris berkembang baik pada keadaan udara lembab dengan suhu 20-32OC. Ada kecenderungan bahwa B. maydis umumnya dijumpai di daerah dataran rendah.
Gejala
Lesio pada daun jagung biasanya memanjang di antara tulang daun dengan warna coklat muda dan ukuran mencapai 1,2 x 2,7 cm, berbentuk elip (hawar/bercak daun maydis/carbonum/ rostratum). Lesio sering dikelilingi oleh warna coklat dan dapat terjadi di batang, upih daun, dan tongkol. Tanaman yang tumbuh dari biji terinfeksi akan layu dan mati pada umur 3-4 minggu.






  1. Penyakit Hawar Daun Exserohilum turcicum (Pass.)

Penyebab
Penyakit hawar daun turcicum disebabkan oleh jamur E. turcicum (Pass.) Leonard et Suggs. Jamur membentuk konidiofor yang keluar dari mulut daun (stomata), satu atau dua dalam kelompok, lurus atau lentur, berwarna coklat, panjangnya sampai 300 μm, tebal 7-11 μm, secara umum 8-9 μm. Konidium lurus atau agak melengkung, jorong atau berbentuk gada terbalik, pucat atau berwarna coklat jerami, halus mempunyai 4-9 sekat palsu, panjang 50-144 (115) μm, dan bagian yang paling lebar berukuran 18-33 μm, kebanyakan 20-24 μm. Stadium sempurna dari jamur ini disebut Setosphaeria turcica (Luttrell) Leonard et Suggs atau Trichometasphaeria turcica (Pass.) Luttrell.

Gejala
Tanaman jagung yang tertular Exserohilum turcicum, gejala awalnya muncul bercak-bercak kecil, jorong, hijau tua/hijau kelabu kebasahan. Selanjutnya, bercak bercak tadi berubah warna menjadi coklat kehijauan. Bercak kemudian membesar dan mempunyai bentuk yang khas, berupa kumparan atau perahu. Lebar bercak 1-2 cm dan panjang 5-10 cm, tetapi lebar dapat mencapai 5 cm dan panjang 15 cm. Spora banyak terbentuk pada kedua sisi bercak pada kondisi banyak embun atau setelah turun hujan, yang menyebabkan bercak berwarna hijau tua beledu, yang makin ke tepi warnanya makin muda. Beberapa bercak dapat bersatu membentuk bercak yang lebih besar sehingga dapat mematikan jaringan daun. Pertanaman jagung yang tertular berat tampak kering seperti habis terbakar.


  1. Hawar Upih (Rhizoctonia solani)

Penyebab
Penyakit hawar upih disebabkan oleh cendawan Rhizoctonia solani.

Penularan
Cendawan R. Solani f. sp. Sasaki membentuk badan buah yang dapat bertahan hidup lama dalam keadaan kering. Sklerotia mudah lepas dari permukaan tanaman inang dan hanyut terbawa air bila terjadi hujan atau pengairan. Apabila menempel pada tanaman inangnya, maka cendawan akan tumbuh dan menginfeksi ke jaringan tanaman. Selain bertahan hidup dalam bentuk sklerotia, cendawan ini juga dapat bertahan dalam biji terinfeksi atau sisa-sisa tanaman di lapang.

Tanaman Inang
Cendawan R. solani mempunyai banyak tanaman inang, selain dari famili rumput-rumputan juga dari famili kacang-kacangan.


Gejala
Gejala penyakit hawar upih ditandai oleh adanya hawar pada upih atau helai daun Pada daun sering tampak zonasi hawar yang merupakan perkembangan infeksi harian. Pada saat cuaca lembab terbentuk badan buah yang dikenal dengan sklerotia yang semula berwarna putih dan setelah tua berubah menjadi coklat kehitaman.







  1. Penyakit Karat Daun (Puccinia sp.)

Penyebab
Karat jagung disebabkan oleh tiga spesies dari dua genera yaitu Puccinia sorghi Scw., P. polysora Underw., dan Physopella zeae (Mains) Cunmins dan Ramachar (Syn. Angiospora zeae Mains).

Epidemiologi
P. sorghi menghendaki suhu 16-230C dan kelembaban udara tinggi. P. polysora dan P. zeae cocok pada suhu tinggi (270C) dengan kelembaban tinggi. Perbedaan ras masing-masing spesies telah diketahui dari reaksi beberapa varietas jagung. P. polysora tidak berkembang pada ketinggian tempat di atas 1200 m, dan di ketinggian kurang dari 900 m cocok bagi perkembangan penyakit karat.

Gejala
Gejala pada tanaman jagung yang terinfeksi penyakit karat adalah adanya bisul (pustules = sori), terutama pada daun. Bisul terbentuk pada kedua permukaan daun bagian atas dan bawah. Bisul dengan warna coklat kemerahan tersebar pada permukaan daun dan berubah warna menjadi hitam kecoklatan setelah teliospora berkembang. Pada saat terjadi penularan berat, daun menjadi kering.


  1. Penyakit Busuk Batang (Fusarium)

Penyebab
Penyakit busuk batang jagung dapat disebabkan oleh cendawan Colletotrichum graminearum, Diplodia maydis, Gibberella zeae, Fusarium moniliforme, Macrophomina phaseolina, Pythium apanidermatum, Cephalosporium maydis, dan Cephalosporium acremonium.


Penularan
Cendawan patogen penyebab penyakit busuk batang memproduksi konidia pada permukaan tanaman inang. Konidia dapat disebarkan oleh angin, air hujan atau serangga. Pada waktu tidak ada tanaman, cendawan dapat bertahan pada sisa-sisa tanaman yang terinfeksi dalam fase hifa atau piknidia dan peritesia yang berisi spora. Pada lingkungan yang sesuai untuk perkembangannya, spora akan keluar dari piknidia atau peritesia. Spora pada permukaan tanaman jagung akan tumbuh dan menginfeksi melalui akar atau pangkal batang. Infeksi awal dapat melalui luka atau membentuk sejenis apresoria yang mampu berpenetrasi ke jaringan tanaman. Spora/konidia yang terbawa angin dapat menginfeksi ke tongkol. Biji yang terinfeksi bila ditanam dapat menyebabkan penyakit busuk batang.


Gejala
Tanaman jagung tampak layu atau seluruh daun mongering. Gejala tersebut umumnya terjadi pada stadia generatif, yaitu setelah fase pembungaan. Pangkal batang yang terinfeksi berubah warna dari hijau menjadi kecoklatan, bagian dalam busuk, sehingga mudah rebah, dan bagian kulit luarnya tipis. Pada pangkal batang yang terinfeksi tersebut terlihat warna merah jambu, merah kecoklatan atau coklat.



  1. Penyakit Gosong (Smuts)

Penyebab
Ada tiga penyebab penyakit gosong pada jagung. Pertama, Ustilago maydis (DC) Cda. (Syn. Ustilago zeae Ung.). Teliosporanya (klamidospora) berbentuk bulat sampai elip, berwarna coklat sampai hitam, diameter 8-11 μm. Spora diploid ini tumbuh membentuk promiselium dengan empat atau lebih sporidia. Infeksi dapat dilakukan langsung oleh hipa yang tumbuh dari teliospora atau dari hasil fusi antara sporidia dan hipa. Kedua, Sphacelotheca reiliana (Kuhn) Clint. (Syn. Sorosporium reilianum (Kuhn) Mc Alp., Ustilago reiliana Kuhn. Teliospora berbentuk bulat, berwarna coklat kemerahan sampai hitam, berdiameter 9-12 μm, berduri banyak. Teliospora berkecambah membentuk basidia dan lateral sporidia kecil, hialin, sel
tunggal, agak bulat, berdiameter 7-15 μm. Teliospora dapat berkecambah membentuk hipa panjang yang bisa menginfeksi. Ketiga, Ustilaginoidea virens (Cke.) Tak. Syn.m U. oryzae (Pat.) Bref. Sklerotia yang masak berbentuk bulat dengan diameter 4-15 nm, berwarna hijau olive sampai hitam. Konidia berbentuk bulat sampai oval, warna hijau olive, diameter 4-7 μm, terbentuk pada semacam strigma pendek dari septa hipa berwarna hijau kekuningan.

Siklus Hidup
U. maydis. Klamidospora berkecambah pada kondisi yang cocok, menghasilkan sporidia yang dapat dibawa angin atau percikan air sampai pada tanaman jagung muda. Miselium masuk ke jaringan tanaman melalui stomata, luka atau penetrasi langsung melalui dinding sel dan menstimulir sel inangnya untuk membelah. S. reiliana. Teliospora tinggal di tanah dan berkembang secara sistemik. Pada sebagian atau seluruh jaringan muncul pembekakan yang disebut sori. Sori dibungkus dengan jaringan tipis yang apabila pecah keluar massa spora.

Epidemiologi
U. maydis menghendaki keadaan iklim kering dan suhu antara 26-340C. Periode inkubasi dari infeksi sampai timbul gall sekitar satu sampai beberapa minggu. Pemupukan N tinggi dan pupuk kandang meningkatkan penyakit gosong. S. reiliana menghendaki suhu tanah 21-280C dan kelembaban tanah moderat sampai rendah 15 25%. Inang dari S. reiliana meliputi pitscalegrass, sorgum dan sudangrass.

Gejala
Gejala awal berupa pembengkakan atau gall yang dibungkus dengan jaringan berwarna putih kehijauan sampai putih perak mengkilat. Bagian dalam gall berwarna gelap dan berubah menjadi massa tepung spora berwarna coklat sampai hitam. Gall dapat terjadi pada semua bagian tanaman jagung. Gall pada tongkol apabila sudah mencapai pertumbuhan maksimal dapat mencapai diameter 15 cm. Gall pada daun tetap kecil dengan diameter 0,6-1,2 cm. Apabila bunga jantan terinfeksi, maka semua tongkol pada tanaman tersebut terinfeksi penyakit gosong.




  1. Penyakit Bakteri Busuk Batang (Bacterial Stalk Rot)

Penyebab
Penyakit busuk batang jagung disebabkan oleh bakteri Erwinia chrysanthemi pv. zeae (Syn E. carotovora var. zeae Sabet, 1954). Sel bakteri berbentuk batang pendek berukuran 0,6-0,9 x 0,8-1,7 μm, mempunyai flagella peritrikus yang dapat bergerak aktif, biasanya berpasangan atau jarang dalam bentuk rantai pendek dan gram-negatif. Pada agar nutrient, koloni bakteri ini berwarna putih keabu-abuan, timbul, mengkilap, dan pinggirannya halus (rata). Pada media agar kentang glukosa pH 6,5, pinggiran kolomnya berombak pada umur 3-6 hari.

Siklus Hidup
Bakteri dapat bertahan secara saprofit pada sisa-sisa tanaman mati dan menginfeksi tanaman jagung melalui stomata, hydatoda, atau luka pada daun maupun batang. Bakteri ini juga dapat ditularkan melalui biji dari tanaman terinfeksi.

Epidemiologi
Penyakit busuk batang jagung berkembang di daerah dengan curah hujan tinggi, pertanaman yang diairi dengan springkler, dan tanah yang biasa terkena banjir. Suhu yang tinggi (30-35OC) merupakan kondisi yang sesuai bagi perkembangan penyakit ini.

Gejala
Tanaman tiba-tiba rebah karena bagian pangkal batang yang terinfeksi bakteri menjadi lunak, berlendir berwarna coklat sampai coklat tua dan Jaringan tanaman yang terinfeksi berbau busuk. Bagian batang yang melunak tersebut terpuntir yang merupakan ciri khas penyakit ini.



  1. Hawar dan Layu Bakteri Goss (Goss’ Bacterial Wilt and Blight)

Penyebab
Penyakit hawar dan layu bakteri Goss disebabkan oleh bakteri Corynebacterium nebraskense. Sel bakteri berbentuk batang pendek berukuran 0,5-2,5 μm, gram positif, tidak berflagella, dan tidak dapat bergerak. Koloni pada media agar nutrient broth-glucose-yeast extract berwarna apricot atau oranye kapucine dan berlendir. Bakteri ini mempunyai banyak strain.

Siklus Hidup
Bakteri menginfeksi melalui luka pada daun, batang, maupun akar jagung. Bakteri dapat bertahan pada sisa-sisa tanaman terinfeksi seperti daun, batang, tongkol, dan kelobot yang ada di permukaan tanah. Infeksi primer juga dapat terjadi dari biji terinfeksi. Bakteri juga bisa hidup terbawa air irigasi.

Gejala
Gejalanya sulit dibedakan dengan gejala penyakit bakteri layu Stewarts. Lesio terdiri atas dua bagian yang berbeda, yaitu bagian yang berwarna jerami dan bagian yang lanas (water soak), sejajar dengan tulang daun. Eksudat bakteri tampak pada permukaan lesio, yang apabila mengering membentuk kristal berkilau. Infeksi dapat terjadi pada tanaman muda maupun tua, dari infeksi langsung pada daun atau melalui akar tanaman muda. Infeksi awal dapat menyebabkan tanaman jagung layu dan kemudian mati. Infeksi sistemik menyebabkan jaringan pembuluh berubah warna. Akar bagian bawah batang yang busuk berwarna coklat berlendir, lanas atau mengering. Pada potongan melintang batang keluar eksudat bakteri berwarna oranye.



  1. Bakteri Layu Stewarts (Stewarts Bacterial Wilt)

Penyebab
Bakteri Erwinia stewartii. Sel bakteri berukuran (0,4-0,8) x (0,9-2,2) μm, tidak berflagella dan dapat bergerak. Koloni pada media agar glukosa berwarna kuning krem, kuning lemon, atau kuning oranye dan masing-masing berbentuk datar, cembung atau cekung. Massa bakteri dapat dilihat pada potongan batang atau daun yang terinfeksi apabila dicelup pada air jernih.


Gejala
Tanaman yang rentan menjadi layu menyerupai kekeringan, defisiensi hara, atau terserang hama. Gejala lain adanya goresan berwarna hijau pucat atau kuning, membujur sejajar tulang daun, dengan pinggir bergelombang tidak beraturan. Goresan ini segera berubah menjadi kering dan berwarna coklat. Rongga pada empulur batang terbentuk pada tanaman yang tertular berat di dekat permukaan tanah. Bakteri berkembang dan menyebar melalui jaringan pembuluh sampai ke biji. Beberapa varietas tampak lebih tahan dari yang lain.

  1. Penyakit Virus Mosaik Kerdil Jagung (Maize Dwarf Mosaic Virus = MDMV)

Morfologi Partikel
Partikel virus penyebab penyakit mosaik kerdil jagung berbentuk batang lentur panjang berukuran 12-15 x 750 Cm, termasuk ke dalam golongan potyvirus.



Penularan
Virus ini ditularkan secara mekanis oleh serangga vektor secara nonpersisten. Lebih dari 20 spesies aphis dilaporkan dapat memindahkan virus ini. Aphis daun jagung, Rhopalosiphum maydis (Fitch), kutu hijau, Schizaphis graminum (Rondani), dan aphis persik hijau, Myzus percicae (Sulzer) adalah jenis aphis yang dilaporkan menularkan MDMV. Biji dapat menularkan virus ke tanaman berikutnya, walaupun dengan intensitas yang sangat rendah (0,05%).

Gejala
Gejala jelas tampak pada daun muda, terutama pada daun yang baru membuka sebagian, berupa mosaik atau adanya warna-warna hijau muda dan tua. Warna hijau muda atau kekuning-kuningan biasanya memanjang sejajar dengan tulang daun. Tanaman terinfeksi sedikit mengalami hambatan pertumbuhan (stunting) dan ukuran tongkol serta jumlah biji berkurang. Gejala yang semula jelas pada daun muda, dapat menjadi tidak jelas setelah daun menjadi lebih tua terutama pada suhu tinggi. Gejala dapat mulai tampak pada umur tanaman 15 hari setelah berkecambah.


  1. Penyakit Virus Kerdil Khlorotik Jagung (Maize Chlorotic Dwarf Virus Disease = MCDV)

Partikel
Partikel virus berbentuk bulat (isometric) dengan diameter 31 mm.
Penularan
Virus ditularkan oleh serangga vektor, wereng daun jagung Granminella nigrifrons (Forbes), dan G. sonora (Ball) secara semipersisten. Wereng masih infektif sampai 8 jam setelah menghisap cairan tanaman terinfeksi MCDV.


Gejala
Gejala awal ditandai oleh warna khlorose pada daun muda di pucuk tanaman. Khlorotik garis di antara tulang daun sekunder dan tersier sering tampak. Daun menguning atau kemerahan dan pemendekan ruas batang umum terjadi. Infeksi ganda MCDV dan MDMV menyebabkan gejala yang lebih berat dari gejala infeksi tunggal.


  1. Penyakit Mosaik Virus Jagung (Maize Mosaic Virus Disease = NMV)

Penyebab
Penyebabnya adalah Rhabdovirus dengan ukuran (48-90) x (225-242) mm.

Penularan
Penyakit mosaik virus jagung (NMV) ditularkan secara persisten oleh wereng batang jagung, Peregrinus maidis (Ashmead). Virus dapat berkembang biak dalam tubuh serangga dalam periode inkubasi yang lama sampai seumur hidup serangga. Pada tanaman jagung muda, periode inkubasi berkisar antara 4-30 hari.


Gejala
Garis khlorotik pendek sampai panjang dan bercak khlorotik pada tulang daun. Daun umumnya mempunyai garis kuning lebar dan panjang yang akhirnya menjadi nekrotik. Garis khlorotik dapat pula terjadi pada pelepah, kelobot, dan batang jagung. Tanaman muda lebih peka dari tanaman yang lebih tua.



  1. Penyakit Virus Gores Jagung (Maize Streak Virus Disease = MSV)

Morfologi
Virus berbentuk bulat berukuran 20 nm, namun sering ditemukan berukuran 20 x 30 mm. Strain dari virus ini telah diketahui dari perbedaan spesies inangnya.

Penularan
Virus gores jagung (MSV) ditularkan oleh lima spesies wereng daun dari genus Cicadulina. C. mbila (Naude) adalah yang paling penting dari kelimanya.

Gejala
Bercak kecil, bulat warna krem sampai putih, tersebar pada daun muda. Bercak berkembang memanjang dan bersambung satu sama lain membentuk goresan khlorotik tersebar merata pada seluruh permukaan daun. Goresan khlorotik yang sejajar dan bergabung sebagian atau seluruhnya membentuk garis atau potongan garisn hijau di antara tulang daun. Varietas peka yang terinfeksi sejak awal pertumbuhannya memiliki ruas yang pendek dan daunnya sempit. Infeksi awal juga menyebabkan tongkol tidak terisi penuh.


  1. Penyakit Virus Mosaik Tebu (Sugarcane Mosaic Virus = ScMV)

Morfologi
Partikel virus berbentuk batang panjang, termasuk ke dalam golongan potyvirus.

Penularan
Secara alamiah virus ini disebarkan oleh serangga vektor aphis, Rhopalosiphum maydis (Fitch) (Shepherd 1965). Inokulasi buatan dengan cara membuat ekstrak tanaman terinfeksi ScMV, dicampur serbuk karborundum, dan diusapkan pada daun jagung yang muda juga dapat menularkan virus.

Gejala
Gejala berupa mosaik pada daun dan tanaman yang terinfeksi pada awal pertumbuhan menjadi kerdil. Gejala awal tampak adanya spotspot khlorotik pada daun paling muda pada pucuk. Spot-spot bertambah banyak dan membentuk garis memanjang setelah daun berkembang melebar dan selanjutnya menjadi garis-garis khlorotik pada daun.


Referensi :

Pabbage, M.S., A.M. Adnan, N.Nonci. 2002. Pengelolaan Hama Prapanen Jagung. Balai Penelitian Tanaman Serealia : Maros

Wakman, W dan Burhanuddin. 2002. Pengelolaan Penyakit Prapanen Jagung. Balai Penelitian Tanaman Serealia : Maros


v

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Share It